catatan perjalanan singkat 2


Langit singapura begitu cerah ketika kami sampai di the Asian Civilisations Museum sebuah kompleks bangunan tua peninggalan kolonial inggris yang di bangun pada tahun 1865 yang awal pembangunannya di gunakan sebagai gedung pengadilan. terletak di tepian Singapore river tempat di mana peradaban kota singapura di bangun.
Saya duduk di tepian sungai itu ketika semua teman teman sedang berebut antri membeli es cream satu dolar, ku pandangi lalu lalang perahu wisata yang menyusuri Singapore river...
aku iri dengan Negara ini yang bisa berhasil keluar sebagai Negara yang maju, walaupun penduduk singapura terdiri dari berbagai suku bangsa tapi mereka tidak menonjolkan ke etnisannya mereka akan menjawab dengan tegas sebagai bangsa singapura , tidak seperti di kita yang masih di sibukan dengan berbagai persoalan etnis dan keyakinan .
Saya membayangkan jika di Indonesia semua etnis dan keyakinan dengan bangga bicara sebagai bangsa Indonesia tentu kita akan lebih dari Negara singapura ini , karena kita memiliki segalanya.
Di depan the Asian Civilisations Museum ini juga saya melihat kejadian yang membuat saya malu sebagai anak bangsa , ketika itu saya sedang asik melihat seni instalasi yang ada di taman museum ada dua warga singapura yang sedang memegang bendera Negara mereka yang jatuh dari dari tiang nya kulihat mereka begitu perhatian , bendera itu di pegangin terus sambil di bersihkan nya sedang yang satunya menelpon petugas museum untuk memperbaikinya , yang jadi bikin saya bergetar adalah kedua orang tersebut tidak beranjak dari tempat itu hingga petugas yang di panggilnya datang.
sungguh sebuah pemandangan yang membuat saya malu sebagai warga Negara . ...

AKU INGIN

Oleh : Sapardi Djoko Damono

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

sengaja saya kutip puisi nya pak joko damono sebagai ungkapan perasaan hatiku sekarang ini yang di landa kejenuhan yang akut.
yang tanpa kusadari telah membuatku terjebak dalam alam halusinasi yang ku bikin sendiri , aku memang sorang yang bodoh yang begitu mudahnya terbawa gelombang gelombang mimpi yang sebenarnya sudah saya sadari sebelum nya.




catatan ringkas perjalanan singkat

Sejak kembali saya jejakan kakiku kembali di tanah tumasek , sebenar nya saya sudah siapkan mental jika suatu saat nanti saya kena masalah di tempat ini ,
sebab saya harus akui saya ini orang yang pelupa dan yang saya khawatir kan adalah tentang rokok..yah rokok karena saya pelupa saya khawatir saya tiba tiba melakukan hal tersebut  di tempat yang salah.

Saya ..memang. familiar  kota ini tapi itu sudah berlangsung lama lebih dari  dua puluh tahun yang lalu.




Saat saya sudah memasuki pusat kota ku coba ku kumpul
kan semua  ingatan ku terhadap kota ini dari gedung gedungnya jalan nya semua ku coba di ingat ingat lagi dan yang lebih membuat saya antusias lagi ketika penginapan yang saya tempati ada di daerah yang pernah saya tinggali dulu yaitu daerah kampong glm sebuah daerah cagar budaya melayu di singapura.

dan masih seperti dulu semua masih sama persis seperti dua puluh tahun yang lalu, cuman saya sedikit kecewa karena   sekarang kampoeng glam sangat komersil sekarang saya tidak temukan lagi senyum ramah penduduk melayu yang menyapah kita kalau kebetulan berpapasan. semua berubah semua bernilai dengan dolar..! 
Dulu jika kita sholat berjamaah di masjid sultan maka sehabis kita solat berjamaah kita semua ngobrol membicarakan  tentang kehidupan keseharian kita.
Sekarang semuanya di ukur dengan dolar 


Bahkan saya menemukan sebua famlet yang di tempelkan di kaca  penginapan tempat saya.., saya sampai menghela nafas kenapa singapura jadi berubah seperti ini? apa ini semua akibat liberalisasi yang di terap kan pemerintah nya? jujur saya sangat kehilangan  senyum hangat khas melayu riau . semua berubah jadi robot pengeruk dolar para wisatawan yang datang.

di akhir catatan ringkas ini hanya ingin menanyakan ke diri kita sendiri apakah kita juga mungkin akan seperti ini jika suatu saat daerah kita  jadi objek destinasi wisatawan dunia ? apakah budaya kita hanya akan di jadikan film tutorial yang akan di tampilkan di musium musium sedang yang aslinya hilang tergerus ambisi pundi pundi devisa? dan yang terakhir semoga negri tetangga ini bisa jadi contoh kegagalan merawat identitas dirinya sendiri..

Kategori

Kategori